Ingin ku menyentuh dasar laut dan bersemayam di dasar
samudra..
Bersama kenangan yang mungkin tak mampu ku uraikan satu
persatu..
Dalam diam aku menghirup udara sedalam-dalamnya..
Sejauh ini, itu bekerja cukup baik untuk menenangkan
pikiranku yang kacau..
Luluh lantak perasaanku saat ini, bagaikan jahitan bantal
yang lepas..
Terbanglah seluruh isi, setiap bagian dari kapas-kapas yang
dulu mampu membuatku nyaman..
Sandaran hatiku yang selama ini begitu hangat untuk ku
tinggali, kini ia pergi..
Pergi bersama arus sungai yang mengantarkannya pada deburan
ombak, dan berbaur dengan asinnya laut..
Tak terasa luka ini telah mengering, dibasuh beberapa
tetesan embun di pagi buta..
Entahlah, ku rasa ini mujarab..
Seperti kerbau dan jalak..
Kerbau bisa saja tak menyadari akan hadirnya jalak
dipunggungnya..
Begitu pun jalak yang entah mengerti atau tidak telah
bertengger diatas seekor kerbau tua..
Mereka cukup memahami bahwa mereka saling menguntungkan satu
sama lain..
Sama hal nya kita, bersama mengisi kekosongan yang
sebenarnya telah dimiliki oleh orang lain..
Dengan bodohnya bertahan dengan segala keragu-raguan..
Menikmati bahumu yang menjadi tempat bersandar dan tumpuan
tangisan wanita lain, bagiku tidak ada kesalahan disana..
Memang nyaman kurasa, hangat dan penuh kelembutan..
Meski sementara, takkan ku sesali..
Karna aku menyayangimu, bukan hanya sekedar memanfaatkan..
Jangan kau samakan rasa kasih sayangku dengan segala kemunafikanmu..
Aku mencinta dengan tulus, seperti embun mencintai tetesan
air, begitu bening tak berdebu..
Tapi kau buat menjadi keruh seketika saat kau manfaatkan
ketulusanku sebagai tempat pelampiasanmu..
Sadarkah kau bahwa disini ku kumpulkan kembali puing
reruntuhan ini dengan mengais harapan?
Dan kini ku bangun lagi dinasti ku dengan puing-puing yang
mungkin tak akan sekokoh dulu..
Tapi aku yakin, kerajaanku akan berdiri tegak dan kokoh jika
tak ku sertakan penghianat cinta sepertimu..!
