Salahkah jika terlalu mencintai?
Salahkah jika rasa butuh ini membuatku bertindak bodoh? Bukankah setiap rasa harus diperlihatkan dengan jelas?
Apakah salah jika aku benar-benar membutuhkan?
Apa hanya aku yang mencintai? sedangkan rasa tidak ingin diperjuangkan..
Lupakah tentang bagaimana cara berjuang? Atau hanya sekedar terobsesi dalam saat yang singkat?
Aku Syari
Sabtu, 09 Mei 2015
Kamis, 09 April 2015
If you know what i feel now!
Hei hujan, kamu tau, aku masih saja memikirkan kamu. Aku mencari-cari
celah untuk tidak lagi memikirkanmu. Aku sudah cukup sadar, untuk tidak lagi
berharap padamu. Aku memilih mengikat diriku agar tidak terlalu liar
berimajinasi menantikan kehadiranmu.
Hei, hujan, apa kabar kamu? Masih tergerus niat untuk tidak
menghubungimu. Aku berbicara disini karna ingin lepas dari semua tuntutan rasa
yang menyiksaku. Aku berlebihan? Mungkin, karena begini caraku mencintai. Aku mudah
untuk terjatuh, tapi sangat sulit untuk bangkit. Ada apa dengan rasaku? Sudah berulang-ulang
kali aku kecewa, tetapi masih juga ingin untuk bersama. Aku tidak mengerti,
bukankah kamu tidak peduli?
Rasa ini seperi baru saja kemarin, dan aku ingin melupakanmu.
Aku ingin menjadi teman yang baik, menghapus rasa yang berlebihan ini. Aku ingin
seperti dulu, kita saling memberi rasa dalam diam. Aku sudah sepenuhnya
melepaskan rasaku padamu. Melepaskan setiap partikel yang menyiksa
ikatan-ikatan rasa
If you know what i feel now.. Tapi kamu tidak pernah ingin tau :)
Senin, 16 Maret 2015
Melankolis
Menjadi melankolis boleh saja, tapi pikir-pikir juga apa yang akan kamu perbuat.
Sudahlah, tidak ada gunanya berdebat, sebagian dari kamu terkadang memang tidak memahami arti dalamnya perasaan.
Sudahlah, ini memang tidak bisa dipaksakan. Jika di paksa pun tidak akan menambah apa-apa!
Aku benci jika harus mencinta tetapi tidak pernah dihargai.
Aku hidup dengan duniaku yang akan selalu begini tanpa campur tangan orang yang tidak menginginkanku :)
Sudahlah, tidak ada gunanya berdebat, sebagian dari kamu terkadang memang tidak memahami arti dalamnya perasaan.
Sudahlah, ini memang tidak bisa dipaksakan. Jika di paksa pun tidak akan menambah apa-apa!
Aku benci jika harus mencinta tetapi tidak pernah dihargai.
Aku hidup dengan duniaku yang akan selalu begini tanpa campur tangan orang yang tidak menginginkanku :)
Senin, 09 Maret 2015
Postingan Tanpa Rasa Malu
Hei kamu..
Kamu yang tidak ingin menjelaskan
apapun kepadaku, kamu yang hanya memikul pemikiranmu sendiri. Aku heran, ada
apa dengan dirimu yang hanya ingin diam dan ingin di mengerti tanpa menjelaskan
sepatah kata pun. Kamu tau, aku disini menunggumu lebih dari setahun lamanya.
Berhitung bulan sejak aku menyatakan rasa ini padamu. Tapi ketahuilah, bahwa
aku selalu memimpikanmu, tidak setiap malam, namun sering aku temui kau di
dalam mimpiku. Disana kamu seperti nyata. Hadir menemani aku, banyak hal yang
kita lakukan disana. Seperti bermain dibawah hujan, seakan-akan benar-benar
bersamamu saat itu, begitu bahagianya yang aku rasakan. Disana juga aku bisa
memelukmu dengan hangat tanpa perlu khawatir kamu akan marah. Disana juga kamu
sering mengelus kepalaku dengan lembut, menunjukkan rasa sayang yang memang tak
bisa di ucapkan dalam kata-kata. Malam adalah waktu yang paling ku tunggu,
dengan begitu, aku akan lebih cepat menghayalkan kebersamaan bersama dirimu
sebelum akhirnya aku terlelap.
Hei kamu..
Jujur saja saat ini akumemikirkan
kamu yang entah juga sedang memikirkanku atau tidak.
Ketahuilah, aku selalu ingin
hadir dalam suka dan duka mu. Tapi kamu tidak pernah menyatakan rasa suka
maupun bencimu kepadaku. Sampai saat ini aku juga tidak paham, apakah dulu kamu
pernah menaruh rasa padaku?
Seiring dengan berlalunya waktu,
sedikit demi sedikit kuhapuskan kenangan-kenangan bersamamu. Tapi tak dapat ku
tolak ingatan itu kembali seketika hujan turun. Ya, aku menikmati turunnya
hujan, sedari dulu, jauh sebelum aku mengenalmu. Tidakkah kamu ingat kita
sama-sama penyuka hujan? Apakah kamu juga mengingat tentang diriku ketika
hujan? Hahaha, bicara apa aku ini. Aku sadar, aku bukan siapa-siapa bagimu.
Tidak juga penting mengingatku ini.
Kamu itu jauh dari jangkauanku,
seperti menatap bulan, berdecak kagum saat memandangmu, tapi tak ada yang bisa
aku lakukan untuk menggapaimu. Terlalu banyak perbedaan kita, apalagi
orang-orang disekelilingmu yang sepertinya tidak senang melihatku. Aku ini
siapa? Aku tidak cantik, aku tidak kaya, aku juga tidak modis. Hanya mengandalkan
pertemanan yang baik untuk memperluas relasi hidup.
Siapalah aku bagimu, selalu kamu
acuhkan begitu saja, padahal kau sangat tahu, bahwa aku adalah perempuan yang
membunuh rasa malu hanya untuk menyatakan rasa kepadamu. Tak pernah sekalipun
aku dihiraukan. Ketahuilah, aku bertahan selama berbulan-bulan demi menjaga
rasaku kepadamu. Tapi tidak pernah diindahkan. Begitu hina-kah aku hingga
membuatmu begitu acuh hingga tak mengganggap bahwa diriku ada?
Aku memang perempuan yang jauh
dari kata sempurna untuk mendekatimu. Tapi jika dihitung, tak lagi aku ingan
berapa kali aku mencoba untuk menjadi sempurna dihadapanmu. Tetapi tidak juga
cukup untuk menarik dirimu agar mau memperhatikanku. Kamu harus tahu, bahwa aku
benar-benar kecewa dan benar-benar ingin menangis sejadi-jadinya saat aku tau
kamu tidak pernah ingin mencoba menjelaskan sesuatu tentang perasaanmu padaku.
Tak mengapa, jika memang aku
bukan perempuan yang ingin kamu sayangi. Tapi cobalah untuk menjelaskan itu
kepadaku. Cobalah untuk mengatakan apa yang ingin kamu katakan kepadaku. Satu
kalimat saja cukup untukku. Jangan berfikir aku akan marah, atau aku akan
melakukan hal-hal bodoh. Aku akan menerima apapun yang akan kamu katakan hingga
akhirnya aku tau apa yang ka mu inginkan.
Aku tidak menuntut “kamu harus
menjadi milikku”, aku pernah menyatakan perasaanku karena aku ingin kamu tahu
bahwa kamu bisa membuatku merasa nyaman. Tetapi kamu tidak pernah ingin
memberikan alasan apakah caraku benar atau salah. Tolonglah, aku butuh
penjelasan..
Aku menulis ini disini karena aku
tidak memiliki media lain untuk berkomunikasi denganmu. Bertemu langsung pun
aku tidak di hiraukan. Mungkin ini hanya satu arah, tapi beri aku kesempatan
untuk tahu apa yang pernah kamu rasakan.
Jika benar aku harus menjauhimu,
aku akan terima, dan aku akan mencoba melupakanmu, tapi, tolong, berikan aku
sebuah alasan, entah itu logis atau tidak. Aku hanya ingin tahu..
Minggu, 15 Februari 2015
Selamat Ulang Tahun Ama-ku..
Ma, hari ini bertambah satu tahun usiamu..
Tak muda lagi memang, tapi di usiamu kini Ama telah menjadi
ibu terbaik, yang menyayangi kami. Menyayangi Ri, Nuri dan Apa..
Tak banyak kata yang mampu diucap, Selamat Ulang Tahun ma,
semoga panjang umur, sehat selalu, hingga nanti tanpa terputus kasih sayang untukmu,
dan untuk kami. Semoga Allah tetap membuat keluarga kita satu dalam
kebahagiaan. Aamiin.
Kamis, 12 Februari 2015
Come Back!
Kembali setelah satu tahun terakhir aku tidak nge-blog karena kesibukan study-ku.!
Setelah melewati semuanya, kini akan kusempatkan menulis disela-sela kesibukanku mengajar.
Ya! Sekarang aku telah menjadi seorang guru. Setelah menyelesaikan study-ku di jenjang S1 di Pendidikan Luar Biasa, September 2014 lalu.
Sangat senang bisa membuat orangtuaku bangga dan mengecap manisnya dunia kerja tanpa berfikir terlalu panjang. Alhamdulillah, aku dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangiku. Tidak terasa, begitu banyak rezeki yang telah aku peroleh. Baik itu moril maupun materi..
Dan kini aku ingin kembali setelah satu tahun berhenti menulis disini.!
Semoga~
Rabu, 05 Februari 2014
Aku bangkit Sayang..!
Ingin ku menyentuh dasar laut dan bersemayam di dasar
samudra..
Bersama kenangan yang mungkin tak mampu ku uraikan satu
persatu..
Dalam diam aku menghirup udara sedalam-dalamnya..
Sejauh ini, itu bekerja cukup baik untuk menenangkan
pikiranku yang kacau..
Luluh lantak perasaanku saat ini, bagaikan jahitan bantal
yang lepas..
Terbanglah seluruh isi, setiap bagian dari kapas-kapas yang
dulu mampu membuatku nyaman..
Sandaran hatiku yang selama ini begitu hangat untuk ku
tinggali, kini ia pergi..
Pergi bersama arus sungai yang mengantarkannya pada deburan
ombak, dan berbaur dengan asinnya laut..
Tak terasa luka ini telah mengering, dibasuh beberapa
tetesan embun di pagi buta..
Entahlah, ku rasa ini mujarab..
Seperti kerbau dan jalak..
Kerbau bisa saja tak menyadari akan hadirnya jalak
dipunggungnya..
Begitu pun jalak yang entah mengerti atau tidak telah
bertengger diatas seekor kerbau tua..
Mereka cukup memahami bahwa mereka saling menguntungkan satu
sama lain..
Sama hal nya kita, bersama mengisi kekosongan yang
sebenarnya telah dimiliki oleh orang lain..
Dengan bodohnya bertahan dengan segala keragu-raguan..
Menikmati bahumu yang menjadi tempat bersandar dan tumpuan
tangisan wanita lain, bagiku tidak ada kesalahan disana..
Memang nyaman kurasa, hangat dan penuh kelembutan..
Meski sementara, takkan ku sesali..
Karna aku menyayangimu, bukan hanya sekedar memanfaatkan..
Jangan kau samakan rasa kasih sayangku dengan segala kemunafikanmu..
Aku mencinta dengan tulus, seperti embun mencintai tetesan
air, begitu bening tak berdebu..
Tapi kau buat menjadi keruh seketika saat kau manfaatkan
ketulusanku sebagai tempat pelampiasanmu..
Sadarkah kau bahwa disini ku kumpulkan kembali puing
reruntuhan ini dengan mengais harapan?
Dan kini ku bangun lagi dinasti ku dengan puing-puing yang
mungkin tak akan sekokoh dulu..
Tapi aku yakin, kerajaanku akan berdiri tegak dan kokoh jika
tak ku sertakan penghianat cinta sepertimu..!
Langganan:
Postingan (Atom)