Senin, 16 Maret 2015

Melankolis

Menjadi melankolis boleh saja, tapi pikir-pikir juga apa yang akan kamu perbuat.
Sudahlah, tidak ada gunanya berdebat, sebagian dari kamu terkadang memang tidak memahami arti dalamnya perasaan.
Sudahlah, ini memang tidak bisa dipaksakan. Jika di paksa pun tidak akan menambah apa-apa!
Aku benci jika harus mencinta tetapi tidak pernah dihargai.
Aku hidup dengan duniaku yang akan selalu begini tanpa campur tangan orang yang tidak menginginkanku :)

Senin, 09 Maret 2015

Postingan Tanpa Rasa Malu



Hei kamu..
Kamu yang tidak ingin menjelaskan apapun kepadaku, kamu yang hanya memikul pemikiranmu sendiri. Aku heran, ada apa dengan dirimu yang hanya ingin diam dan ingin di mengerti tanpa menjelaskan sepatah kata pun. Kamu tau, aku disini menunggumu lebih dari setahun lamanya. Berhitung bulan sejak aku menyatakan rasa ini padamu. Tapi ketahuilah, bahwa aku selalu memimpikanmu, tidak setiap malam, namun sering aku temui kau di dalam mimpiku. Disana kamu seperti nyata. Hadir menemani aku, banyak hal yang kita lakukan disana. Seperti bermain dibawah hujan, seakan-akan benar-benar bersamamu saat itu, begitu bahagianya yang aku rasakan. Disana juga aku bisa memelukmu dengan hangat tanpa perlu khawatir kamu akan marah. Disana juga kamu sering mengelus kepalaku dengan lembut, menunjukkan rasa sayang yang memang tak bisa di ucapkan dalam kata-kata. Malam adalah waktu yang paling ku tunggu, dengan begitu, aku akan lebih cepat menghayalkan kebersamaan bersama dirimu sebelum akhirnya aku terlelap.
Hei kamu..
Jujur saja saat ini akumemikirkan kamu yang entah juga sedang memikirkanku atau tidak.
Ketahuilah, aku selalu ingin hadir dalam suka dan duka mu. Tapi kamu tidak pernah menyatakan rasa suka maupun bencimu kepadaku. Sampai saat ini aku juga tidak paham, apakah dulu kamu pernah menaruh rasa padaku?
Seiring dengan berlalunya waktu, sedikit demi sedikit kuhapuskan kenangan-kenangan bersamamu. Tapi tak dapat ku tolak ingatan itu kembali seketika hujan turun. Ya, aku menikmati turunnya hujan, sedari dulu, jauh sebelum aku mengenalmu. Tidakkah kamu ingat kita sama-sama penyuka hujan? Apakah kamu juga mengingat tentang diriku ketika hujan? Hahaha, bicara apa aku ini. Aku sadar, aku bukan siapa-siapa bagimu. Tidak juga penting mengingatku ini.
Kamu itu jauh dari jangkauanku, seperti menatap bulan, berdecak kagum saat memandangmu, tapi tak ada yang bisa aku lakukan untuk menggapaimu. Terlalu banyak perbedaan kita, apalagi orang-orang disekelilingmu yang sepertinya tidak senang melihatku. Aku ini siapa? Aku tidak cantik, aku tidak kaya, aku juga tidak modis. Hanya mengandalkan pertemanan yang baik untuk memperluas relasi hidup.
Siapalah aku bagimu, selalu kamu acuhkan begitu saja, padahal kau sangat tahu, bahwa aku adalah perempuan yang membunuh rasa malu hanya untuk menyatakan rasa kepadamu. Tak pernah sekalipun aku dihiraukan. Ketahuilah, aku bertahan selama berbulan-bulan demi menjaga rasaku kepadamu. Tapi tidak pernah diindahkan. Begitu hina-kah aku hingga membuatmu begitu acuh hingga tak mengganggap bahwa diriku ada?
Aku memang perempuan yang jauh dari kata sempurna untuk mendekatimu. Tapi jika dihitung, tak lagi aku ingan berapa kali aku mencoba untuk menjadi sempurna dihadapanmu. Tetapi tidak juga cukup untuk menarik dirimu agar mau memperhatikanku. Kamu harus tahu, bahwa aku benar-benar kecewa dan benar-benar ingin menangis sejadi-jadinya saat aku tau kamu tidak pernah ingin mencoba menjelaskan sesuatu tentang perasaanmu padaku.
Tak mengapa, jika memang aku bukan perempuan yang ingin kamu sayangi. Tapi cobalah untuk menjelaskan itu kepadaku. Cobalah untuk mengatakan apa yang ingin kamu katakan kepadaku. Satu kalimat saja cukup untukku. Jangan berfikir aku akan marah, atau aku akan melakukan hal-hal bodoh. Aku akan menerima apapun yang akan kamu katakan hingga akhirnya aku tau apa yang ka mu inginkan.
Aku tidak menuntut “kamu harus menjadi milikku”, aku pernah menyatakan perasaanku karena aku ingin kamu tahu bahwa kamu bisa membuatku merasa nyaman. Tetapi kamu tidak pernah ingin memberikan alasan apakah caraku benar atau salah. Tolonglah, aku butuh penjelasan..
Aku menulis ini disini karena aku tidak memiliki media lain untuk berkomunikasi denganmu. Bertemu langsung pun aku tidak di hiraukan. Mungkin ini hanya satu arah, tapi beri aku kesempatan untuk tahu apa yang pernah kamu rasakan.
Jika benar aku harus menjauhimu, aku akan terima, dan aku akan mencoba melupakanmu, tapi, tolong, berikan aku sebuah alasan, entah itu logis atau tidak. Aku hanya ingin tahu..